Rabu, 09 Oktober 2013

0 Sword Art Online Alicization Rising Chapter 7 : The Two Supervisors Bahasa Indonesia Bagian 2

Share |


Penerjemah : Adoy
Editor : Adoy

Pandangan Kardinal menuju ke tempat lain sementara waktu pada pertanyaanku.Dia harus mengintip sebagian dari dua ratus tahun yang sangat panjang.

Tak lama kemudian, suara yang sangat sangat lembut mengalir keluar dari bibir mungilnya.

"kosakata ku tidak memiliki kata-kata yang cukup untuk secara akurat mengungkapkan apa yang terjadi pada saat itu....Berdasarkan pengalaman, mengesankan, meskipun bagaimana hal itu seharusnya membuat orang gemetaran...memanggil putri pemilik toko furnitur ke lantai atas Katedral, Administrator mencoba menyalin dan menimpa melalui Ritual Sintesis.Dan hal itu sukses tanpa hambatan. menghapus ingatan yang tidak berguna yang menetap dalam anak gadis tersebut, apa yang dapat disebut sebagai versi kompres dari Administrator, tidak, melainkan individu Quinella itu.pada pengaturan awal seharusnya menjadi Quinella asli, yang dihabiskan oleh rentang hidupnya, untuk menghapus jiwanya sendiri setelah mengkonfirmasi keberhasilan....namun..."
 
Pipinya Kardinal, yang dihiasi kemerahan seperti layaknya seorang gadis muda, telah kehilangan warnanya bagaikan selembar kertas ketika aku akhirnya menyadari. Dia menyatakan bahwa dia tidak memiliki emosi, tapi aku tidak bisa membayangkan apa yang dia rasakan saat ini melainkan rasa takut yang mendalam.


"..Bagaimanapun, salinan jiwanya telah selesai...dengan segera kami secara bersamaan membuka mata kita pada jarak yang dekat...semacam dampak yang luar biasa menyerang kita. pada dasarnya...membayangkan untuk menghindari sebuah situasi dimana terdapat dua manusia yang sama persis, situasi yang awalnya tidak mungkin...Aku yakin akan menjadi sesuatu yang mendekati hal itu? Aku...tidak, kami saling menatap dan segera setelah itu, merasakan sebuah permusuhan besar. Tanpa menghiraukan situasi, kami tidak bisa mengizinkan keberadaan jiwa tersebut di depan mata kita, seperti itulah rasanya...melebihi emosi murni dalam nalurinya...tidak, itu mungkin agak seperti salah satu aturan yang terukir pada keyakinan makhluk yang berakal.Jika kondisinya tidak berubah, jiwa keduanya mungkin tidak akan mampu menanggung kejutan dan akan dibinasakan. Namun....Aku tidak yakin jika aku menyebutnya sebuah kemalangan, tapi hal itu tidak terjadi. Setelah itu, fluct light yang disalin ke dalam putri pemilik toko furnitur hancur beberapa saat lebih cepat dan dengan segera, Aku, Sub-individualitas, mengambil hak kontrol. Kami mengakui satu sama lainnya sebagai Administrator,yang berada di dalam tubuh yang awalnya milik Quinella, dan sub-proses, Kardinal yang berada dalam tubuh milik putri pemilik toko furnitur. Setelah itu,kedua jiwa tersebut berhenti terguncang dan stabil."

Sebuah jiwa terguncang.

Kata-kata Kardinal membawa ingatan yang suram dan menakjubkan, peristiwa yang telah aku lihat dua malam yang lalu, salah satu yang aku tidak yakin harus sedih atau senang atas kejadian tersebut.

Aku bersilang pedang dengan kepala elit swordman-in-training dari Akademi Master Pedang, Raios Antinous, dan memotong kedua lengannya dengan scret move Serlut-style,<<Whirling Current>>. Itu luka yang cukup parah bisa dikatakan luka fatal di dunia nyata, tetapi hidupnya tidak akan berakhir di Underworld jika dengan perawatan yang tepat. Aku mencoba menjaga nilai numerik life nya- sesuatu yang berfungsi sebagai hit point di dunia ini, dengan mengikat luka yang terbuka pada kedua lengannya untuk menghentikan aliran darah.

Namun, sebelum itu terjadi. ...sebuah jeritan aneh keluar dari Raios pada saat ia jatuh ke lantai dan menemui ajalnya.

Darah terus mengalir keluar dari luka-lukanya pada waktu itu. Artinya, nilai lifenya belum mencapai nol, jadi dengan kata lain, bahwa Raios telah meninggal dengan alasan lain selain dari hilangnya seluruh life.

Tepat sebelum ambruk, Raios mendapati dirinya dalam situasi dimana ia dihadapkan pilihan antara hidupnya dan Taboo Indeks, yang satu untuk melindunginya dan yang satu lagi menghancurkannya. Dia tidak dapat memilih dan akhirnya jiwanya berakhir hancur terpisah sendiri, terjebak dalam keadaan loop yang tak terhingga, bukankah begitu?

Mungkinkah bahwa
fenomena Quinella diserang setelah bertemu dengan duplikat dari dirinya sendiri pada dasarnya mengalami hal yang sama? Aku bahkan tidak dapat membayangkan kengerian yang datang disertai situasi dimana terdapat eksistensi lain dengan ingatan dan pikiran yang sama persis seperti dirinya sendiri.

Aku tidak dapat menyimpulkan tentang kemungkinan bahwa diriku merupakan artifical fluct light yang disalin dari Kirigaya Kazuto nyata dalam beberapa hari setelah aku terbangun di hutan selatan desa Rulid. Kekhawatiran ku tetap membayangi pikiran ku sampai aku memastikan bahwa aku dapat pergi melawan Taboo Indeks, sementara menyadari hal itu sebagai hukum mutlak, dengan bantuan selka dari Gereja Rulid.

Jika tidak ada tapi kesadaranku terlempar ke dalam kegelapan yang tak terbatas, dan sendirian, berbicara dengan suara yang familiar."Kamu adalah duplikat ku. Kamu hanyalah salinan untuk eksperimen dengan sesuatu yang dapat dihapus dengan sekali menekan tombol." Seberapa parah rasa akan keterkejutan, kebingungan, dan ketakutan pada saat itu?

"-Bagaimana denganmu, Apakah kau telah mengerti semuanya sejauh ini ?"

Seakan kata-kata pembimbing ditujukan kepada ku, karena aku merenungkan segalanya dengan terlalu berlebihan di kepala ku, dari sisi meja yang berlawanan. Mengangkat kepala ku, aku berkedip berkali-kali sebelum mengangguk secara samar-samar.

"Ah...baiklah, sedikit..."

"Aku akhirnya mencapai titik utama pada cerita ku, jadi itu akan merepotkan jika kau mulai mengeluh dari hal sebanyak ini."

"Titik utama...Aku tahu, itu benar. Aku masih belum mendengar apa yang kau inginkan dari ku."

"Ya, Aku terus menunggu sejak hari itu sampai dua ratus tahun untuk mengatakan hal ini, Bagaimanapun...mulai sekarang, Aku percaya aku merupakan bagian saat aku terpisah dari Administrator?"

Kardinal berbicara sambil bermain-main dengan cangkir teh yang telah kosong, memutar-mutar dengan kedua tangannya.

"-Pada waktu itu, Aku akhirnya memperoleh tubuh fisik ku sendiri, yang tepat meskipun, tubuh tersebut milik biarawati magang yang menyedihkan, tapi....individualitasnya telah benar-benar dimusnahkan pada saat light cube nya ditimpa dengan data. terlahir dari sebuah upacara yang kejam dan hasilnya bahwa insiden yang tidak terduga, aku menatap Administrator di depan mata ku selama 0,3 detik sebelum akhirnya mengambil arah tindakan yang logis. Dengan kata lain, aku berusaha untuk menghilangkan dia dengan scred art tingkat tertinggi. Aku adalah salinan sempurna Administrator, yang berarti aku mempunyai otoritas akses sistem pada tingkat yang sama, kau tahu. Aku memprediksi bahwa aku dapat menghabiskan life nya sebelum sumber daya di sekitar ruangan habis jika aku bisa mendapatkan alternatif lain, bahkan jika terjadi pertukaran scred art pada kelas yang sama. Serangan pertama ku mendarat indah dan apa yang kemudian terjadi berlangsung sesuai dengan harapan ku. Sebuah pertarungan kematian yang disertai petir yang sangat besar dan angin puyuh yang saling beradu, neraka dan belati es yang terhampar dengan lantai atas dari Pusat Katedral sebagai stadium kami, dan Life kita dengan cepat menurun. Kecepatan kami sama persis...dengan kata lain, aku, orang yang pertama kali melepaskan serangan, seharusnya menjadi orang yang menang."


Tubuhku tiba-tiba menggigil saat membayangkan pertarungan antara dewa. Pengetahuan scred art menyerang ku masih sangat sederhana yaitu mengubah bentuk elemen, seperti yang digunakan dalam pertarungan melawan Ksatria Eldrie. Kemampuan menyerang mereka jauh melebihi jangkauan serangan pedang tunggal,terus berusaha meskipun hanya berfungsi sebagai hambatan atau gangguan, hampir tidak mampu menghilangkan Life siapapun disekitarnya....

"Huh-,tunggu sebentar. Kamu mengatakan bahwa Administrator tidak memiliki kemampuan membunuh seseorang, bukan? Kemudian tidak seharusnya larangan berlaku terhadap kamu juga, sebagai sebuah copyan? Mengapa kalian berdua bisa saling menyerang satu sama lain?"

Kardinal sedikit cemberut ketika ceritanya mendapatkan sela di bagian yang terbaik. karenanya ia mengangguk lalu menjawab.

"Mmh...itu pertanyaan yang bagus. Benar, seperti yang kau katakan, bahkan Administrator, dirinya terikat oleh Taboo Indeks, tidak dapat melanggar larangan membunuh yang diturunkan kepadanya ketika dia masih muda, sebagai Quinella, oleh orang tuanya. Aku masih belum menjelaskan asal-usul di balik fenomena mengapa kami artifical fluct light tidak mampu melanggar semua perintah tanpa terkecuali bahkan setelah bertahun-tahun lamanya dibahas...Walau bagaimanapun, fenomena ini tidak mutlak seperti yang kamu pikirkan."


"...Yang berarti...?

"Sebagai contoh..."

Kardinal memindahkan tangan kanannya yang memegang cangkir teh diatas meja. Untuk beberapa alasan meskipun, dia tidak menurunkan cangkir ke atas piring malahan ke sebelah kanan, sebuah ruang kosong-tangannya muncul tepat berhenti sesaat sebelum bagian bawahnya menyentuh telapak meja.

"Aku tidak dapat menurunkan cangkir ini lebih jauh."

"Hah?"

Kardinal menjelaskan sambil mengerutkan dahi saat respon tercengang ku

"Alasannya karena ketika aku masih muda, ibu pengajar ku,  yang akan menjadikan Quinella- membesarkan aku dengan aturan sepele seperti <<cangkir teh harus di tempatkan di atas piring kecil>> dan efeknya masih berlaku bahkan sampai sekarang. Satu-satunya hal tabu yang signifikan adalah membunuh, namun terdapat tujuh belas larangan bodoh lainnya yang seperti ini. Aku tidak dapat menurunkan lengan ku lebih jauh lagi tidak peduli apa yang aku lakukan dan jika aku memaksa menempatkan dengan kekuatan ku, hal yang menjengkelkan, rasa sakit timbul di sebelah kanan mata ku."


"...Rasa sakit menyerang...matamu yang kanan..."

"Meskipun begitu, ini adalah perbedaan besar dibandingkan dengan penduduk umumnya. Mereka tidak akan mampu bahkan membayangkan pikiran tentang meletakkan cangkir di atas meja pada tempat pertama. Dengan kata lain, mereka bahkan tidak sadar bahwa mereka terikat oleh banyak aturan yang tidak bisa dilanggar. hal itu mungkin yang terbaik bagi mereka, namun..."

Kemungkinan menyadari bahwa ia benar makhluk buatan, sebuah senyum ejekan dirinya yang tidak cocok terlintas pada wajah muda Kardinal. dan dia dengan cepat meluruskan lengannya kembali.

"Nah...Kirito. Apakah kau melihat ini sebagai secangkir teh?"

"Heh?"

Sebuah suara bodoh terucap, Aku secara intens memandangi cangkir kosong yang di cengkram tangan kanan Kardinal.

Itu terbuat dari keramik putih, lekukan yang sederhana pada sisi-sisinya, dengan gagang polos yang terpasang, Tidak ada desain atau logo yang terlihat selain dari garis biru tua di sepanjang pinggirnya.

"Baiklah...AKu melihatnya sebagai secangkir teh, terdapat teh di dalamnya, bagaimanapun juga...."

"Fm. Lalu, bagaimana sekarang?"

Kardinal meraih bagian luar dengan jari telunjuk pada tangan kirinya, kemudian dengan ringan mengetuk tepi cangkir tersebut.

Cairan langsung mengalir dari dasar cangkir seperti sebelumnya dan mengalirkan uap mawar putih. Namun, aromanya berbeda kali ini. Hidungku secara naluriah mengejang. Bau ini,harum yang sempurna, itu pasti bukanlah semacam teh hitam-tentu saja itu merupakan krim sup jagung. 


Kardinal memiringkan cangkit itu sedikit seolah-olah ingin menunjukkan kepada ku karena aku mengulurkan leherku. itu berwarna kuning pucat, cairan lengket yang seperti aku pikirkan, mengisi cangkir itu sampai penuh. Bahkan ada crouton(potongan roti kecil-kecil), yang dengan cermat di panggang coklat, mengambang disana.

"Su-Sup Jagung! Terima kasih, aku mulai merasakan lapar dan..."

"Kau tolol, aku tidak bertanya tentang isinya. Apa yang ada di wadah ini?"

"Eeh...?baiklah...itu-"

"Aah...Secangkir sup?"

Ketika aku dengan rasa takut menjawab, Kardinal menyeringai lebar sambil mengangguk.

"Ya. Sekarang ini adalah secangkir sup. Tentu saja, pasti terdapat sup di dalamnya sekarang."

Dan, seolah-olah dia sedang pamer, ia meletakkan cangkir itu, seperti meletakkan ke taplak meja tanpa ragu-ragu, keluar sebuah suara gedebuk yang nyaring.

"Apa...!?"

"Lihatlah. Hal ini merupakan betapa tidak jelasnya pantangan yang diberikan kepada kami fluct light buatan. Mereka dapat menolak ini dengan mudah hanya dengan mengubah pandangan subjektif kita."

"...." 


Bahkan ketika aku terkejut dalam diam, adegan tertentu dari dua hari yang lalu diputar ulang dalam pikiran ku sekali lagi.

Saat itu, Raios hendak mengayunkan pedangnya tanpa ampun menuju Eugeo, yang meringkuk dalam ketakutan, tepat pada saat aku menerobos masuk ke Kamar tidur. Pedang Raios mungkin akan memutuskan leher Eugeo dengan sebuah tebasan tuggal jika aku tidak membawa pedangku sendiri.

Pembunuhan jelas Taboo terbesar.Tapi pada saat itu, Eugeo  bukan manusia yang harus diperlakukan dengan baik dalam sudut pandang Raios melainkan seorang penjahat besar yang telah melanggar Taboo Indeks. Dengan mengakui itu, ia dengan mudah mengelak melewati Taboo yang terukir dalam jiwanya.

Saat aku terus merenung dalam diam, sebuah suara ringan terdengar dari salah seorang yang bersandar pada dukungan sandaran kursi lawan. Pada saat mengambil gambaran, Kardinal sedang mengangkat posisi cangkir teh yang diperbaiki, secangkir sup sekali lagi dan berpindah ke bibirnya. Roti dan sandwich daging yang aku makan puluhan menit yang lalu sudah dikonversi ke dalam bentuk angka pada Life ku. dan perut ku bisa merasakan penuh, seperti perasaan meremas.

"Dapatkah aku memiliki beberapa itu juga?"

"Kau sungguh rekan yang rakus. Serahkan cangkir mu."

Sementara menggelengkan kepalanya seoalah-olah dia sangat terkejut, Kardinal tetap mengulurkan tangan kirinya dan menjentikkan ujung cangkir aku mendorongnya maju dengan sebuah nada ping. Cangkir kosong segera terisi kembali dengan wangi cairan kuning yang kental.

Menarik kembali cangkir dengan semangat dan menghirupnya setelah meniupkan uap, mata ku tanpa sengaja tertutup perasaan nostalgia, yang kaya akan rasa menyebar di dalam mulutku. Ada sup yang sedikit mirip di Underworld juga, namun itu sungguh sudah dua tahun yang lalu sejak aku minum semacam krim yang  sempurna seperti sup jagung. Aku mendesah puas setelah meminum dua, tiga suap, kemudian cerita Kardinal dilanjutkan kembali seolah-olah dia telah menunggunya.

"Pahami ini, Taboo yang mengikat kita adalah sesuatu yang dapat dikesampingkan dengan hanya mengubah persepsi kita, seperti yang ku contohkan dengan cangkir sebelumnya. Kamii...Administrator dan aku tidak berfikir satu sama lain sebagai manusia saat kita masuk kedalam pertarungan. Di mata ku, dia adalah sistem yang rusak yang akan membahayakan dunia, dan dalam dirinya, aku adalah sebuah virus pengganggu yang dia tidak dapat hilangkan... Tidak ada sedikitpun keragu-raguan karena kita saling menghilangkan life. Kami saling bertukar seni tingkat tertinggi dan aku akhirnya dengan dua atau tiga serangan mengeliminasi Administrator, atau setidaknya, mengimbanginya."


Mungkin teringat kembali kekesalannya pada waktu itu, Kardinal dengan tegas menggigit bibirnya yang mungil.

"Namun...Namun, Kau tahu. Pada akhirnya, wanita yang terkutuk itu menyadari terdapat perbedaan nyata antara dirinya dan aku."

"Perbedaan nyata...? Namun satu-satunya perbedaan antara Administrator dan kamu adalah penampilan luar...Kamu berdua memiliki otoritas akses sistem yang sama dan seni sakral kamu telah berpengalaman juga, kan?"

"Seharusnya. Orang yang berhasil melakukan serangan pertama, diriku sendiri, jelas menjadi orang yang meraih kemenangan pada akhirnya. Oleh karena itu...Dia mengesampingkan penggunaan scred art. Mengkonversi salah satu tumpukan benda yang memiliki prioritas tinggi di dalam ruangan menjadi senjata,
dia juga sekaligus membuat seluruh ruangan tempat kami bertarung menjadi tempat dimana perintah sistem dilarang."

"Jika...jika dia melakukan sesuatu seperti itu. Bukankah dia akan terkena larangan juga?"

"Yaa, selama dia tetap berada di dalam ruangan, yaitu. Aku menyadari tujuan dia saat dia meneriakan perintah untuk pembuatan senjata. Namun, tidak ada yang bisa aku lakukan saat itu. Aku tidak bisa memanggil perintah sekalipun setelah dilarang, Bagaimanapun juga...Aku enggan membuat senjata juga dan berusaha mengakhirinya melalui serangan fisik."

Kardinal berhenti berbicara dan mengangkat staff nya ke atas meja. Dia memberikan itu kepada ku dalam diam, Jadi aku mengulurkan tangan kanan ku meskipun membuatku kebingungan. Berat yang tak terbayangkan dari bentuknya yang ramping menyerang lengan kanan ku saat aku memegangnya dan dengan panik, aku menggunakan tangan kiri ku juga, untuk mengangkatnya terus sampai ke atas meja. Staff, kemudian diletakkan ke samping dengan bunyi dentuman yang berat, jelas memiliki prioritas yang lebih tinggi dari kedua pedang yaitu pedangku black sword dan Eugeo Blue Rose Sword.

"Jadi begitu...bukan hanya scred art mu yang menggunakan otoritas tingkat dewa, tetapi otoritas peralatan senjata mu juga sama, huh?"

Ketika aku berkata begitu sambil menggosok pergelangan tangan kanan ku,
Kardinal mengangkat bahunya seolah-olah itu hal yang wajar.

"Administrator tidak hanya menyalin ingatan dan proses berfikir tapi seluruh otoritasnya dan tingkat lifenya juga, kau tahu. Pedang yang wanita itu buat dan staff ini yang aku buat memiliki tingkat kemampuan yang sama. Bahkan ketika terjebak dalam pertarungan fisik setelah membuang scred art, Aku pikir aku akan menjadi orang yang meraih kemenangan pada akhirnya. Namun, setelah mengasumsikan cara berdiri dengan staff, Aku akhirnya menyadari tujuan sejati Administrator, yaitu, terdapat perbedaan yang nyata antara dia dan aku..."

"Itulah sebabnya aku bertanya, Apa sebenarnya perbedaan itu?"

"itu sederhana. Lihatlah tubuh ini."

Kardinal membuka bagian depan dari jubah tebalnya dengan tangan kanan dan memperlihatkan tubuhnya yang dibalut blus putih, celana hitam, dan kaus kaki putih setinggi lutut. Itu merupakan sosok seorang gadis muda, ramping dan mungil, berlawanan sekali dengan sikapnya berbicara, seperti seorang wanita bijak yang tua.

Merasa seolah-olah aku melihat sesuatu yang tidak seharusnya, aku bertanya dengan mata ku secara naluri menghadap ke bawah.

"Persisnya ...ada apa dengan tubuh..?"

Jubahnya berkibar saat ia mengembalikan ke posisi semula, Kardinal menggerutu seolah-olaj dia merasa jengkel.

"Astaga, kau benar-benar tulalit, bukan? Coba bayangkan dirimu dimasukkan kedalam tubuh ini. Sudut pandang mu tentang panjang lengannya benar-benar berbeda. Apakah kau dapat menggunakan dan  bertarung dengan pedang seperti yang biasa kau lakukan ?"

"...Ah..."

"Sampai saat itu, aku selalu berada di Administrator...yaitu, tubuh Quinella yang agak tinggi bagi seorang wanita. Aku tidak terlalu memperhatikan hal itu selama kami bertukar seni sakral, tapi... pada titik ketika aku memegang staff ini dan bersiap untuk menyerang musuh, akhirnya aku mengerti bahwa aku telah berada  dalam kondisi yang kritis."


Aku jelas setuju sekarang setelah dia menunjukka hal itu. Bahkan di banyak VRMMOs di dunia nyata, membiasakan diri untuk menilai jarak dalam pertarungan fisik jarak dekat jika seseorang mendapatkan avatar dengan ukuran yang terlalu jauh dari tubuh nyata seseorang diperlukan banyak waktu untuk terbiasa.

"...Ngomong-ngomong, Berapa perbedaan ketinggian antara Administrator dan kamu saat ini...?

"Seharusnya sekitar lebih dari lima puluh sentimeter. senyum lebar pada wajahnya saat dia melihat ke bawah pada ku dari tinggi badannya masih tersimpan jelas dalam ingatan ku. Pertempuran baru segera dimulai lagi, tapi setelah persilangan senjata dua atau tiga kali, Aku tidak punya pilihan selain mengakui kekalahan ku secara pasti..."

"Ke-Kemudian...Apa yang terjadi?"

Dia tentu saja menghindari hal itu entah bagaimana caranya, mengingat ia sedang berbicara dengan ku, tapi aku tetap akhirnya tanpa sengaja menahan napas.

"Keuntungan Administrator cukup menentukan, tapi dia juga melakukan kesalahan tunggal.Kau tahu, jika dia telah mengunci pintu keluar sebelum melarang penggunaan perintah sistem, aku akan terbunuh karena tidak dapat melarikan diri. Tanpa perasaan, Aku-"

Ekspresi Kardinal terlihat benar-benar jengkel, tapi aku tidak akan memotong pembicaraan tersebut.

"-Menilai bahwa aku harus mundur dengan cepat dan berlari menuju pintu secepat kilat. Sementara pedang Administrator, berayun turun dari belakang, mengurangi life ku karena menyerempet punggung ku.."

"It-Ituuu...Mengerikan, huh..."

"Aku berharap suatu hari nanti kau berada dalam situasi seperti ku juga, meskipun. Dengan Bagaimana kamu telah bermain mata dan menggoda perempuan dimana-mana selama dua tahun dan dua bulan."

Aku dengan kuat mengusap mulutku setelah menerima serangan tak terduga, lalu mendadak mengernyitkan dahi.

"Ti-Tidaakk, tunggu dulu. Dua tahun dan dua bulan....Jangan bilang kau selalu mengawasi ku...?"


"Tentu saja, Mungkin dua tahun dan dua bulan diantara dua ratus tahun yang telah aku lalui, namun itu masih terasa lama."

"Whaa..."

Aku merasa takjub, Jadi itu berarti sage muda ini telah mengamati setiap tindakan ku disini dan disana sampai detail terakhir? Itu tidak seperti aku secara sengaja melakukan tindakan aneh sehingga aku tidak dapat membiarkan orang lain melihat, tapi aku juga ragu bahwa aku tidak melakukannya. Namun, tidak ada waktu untuk memeriksa kembali ingatan ku selama dua tahun terakhir sekarang...jadi aku berakata pada diriku sendiri, dengan memaksa menarik kembali pikiran ku.

"Ba-baiklah, aku tidak ingin mengungkit persoalan itu saat ini...Jadi, Bagaimana kau bisa lolos dari Administrator?"

"Fn.-Keluar dari ruang tengah lantai atas Katedral entah mengapa, Aku mendapatkan kembali otoritas penggunaan scred art, Namun situasi tidak berubah.Bagaimanapun juga, jika aku mencoba melakukan serangan balik dengan scred art, dia dengan mudah akan mengubah lorong sebagai ruangan yang dilarang pada waktu itu. Aku tidak dapat melakukan apa-apa selain mengubah cara ku melarikan diri dari berjalan menjadi terbang. Aku pikir aku harus pergi ke tempat dimana serangannya tidak bisa mencapai tempat persiapan ulang ku."

"Bahkan jika kamu mengatakan bahwa...Administrator adalah pengawas dunia seperti yang namanya tunjukkan,kan?  Apakah ada tempat yang dia tidak bisa masuki?"

"Tentu saja, dia adalah dewa yang diasumsikan dengan sebuah nama supervisor, Tapi dia tidak memiliki kemahakuasaan mutlak. Hanya ada dua tempat di dunia ini yang tidak bisa dia lakukan sesuka dia."

"Dua tempat...?"

"Yang pertama berada diluar tepi pegunungan...yaitu Wilayah Gelap (Dark Territory) yang merupakan penduduk dari Dunia Manusia dengan cap tanah kegelapan, Yang lainnya adalah ruang perpustakaan besar dimana kita berada sekarang. Pada awalnya, ruang perpustakaan ini adalah ruang yang diciptakan oleh Administrator ketika mencari tahu tentang batas memorinya sendiri yang digunakan sebagai perangkat penyimpanan eksternal, boleh dibilang. Ini menyimpan banyak sejumlah data yang berhubungan dengan semua perintah sistem serta Underworld.-Karena itu, dia berpikir bahwa dia harus mengerahkan seluruh kemampuannya untuk mencegah manusia selain dirinya datang kesini. Oleh karena itu, dia mengaturnya di dalam Katedral meskipun tidak terhubung langsung. Hanya ada satu pintu masuk dan ditambah lagi perintah untuk memanggilnya hanya diketahui oleh dia...tidak, hanya dia dan aku."

"H-Haa.."

Aku melihat sekeliling ruangan perpustakaan yang besar dengan lorong, tangga dan rak buku yang tersusun beberapa lantai sekali lagi. Dinding yang berbentuk silinder tampaknya terbuat dari bata biasa, namun-

"Kemudian, dibalik dinding itu adalah..."

"Tidak ada. Dindingnya sendiri tidak bisa dihancurkan, Namun, mungkin hanya terdapat ruang hampa yang akan menantimu jika sewaktu-waktu pecah."

AKu mulai bertanya-tanya apa yang akan terjadi jika seseorang jatuh disana, Namun aku sedikit menggelengkan kepala dan menghilangkan pikiran tadi.

"Erm-, Bahwa pintu tunggal yang kamu sebutkan tadi adalah satu-satunya yang kami lewati ketika kita masuk dari kebun mawar tadi?"

"Sebenarnya, pintu itu adalah salah satu yang belum lama aku buat. Pintu ganda yang besar berada di tengah-tengah lantai terendah hingga dua ratus tahun yang lalu. Saat aku berlari dari kejaran Administrator dengan mempertaruhkan hidup ku, aku membacakan seni memanggil pintu-pintu tersebut. Aku masih tetap terhalang sekitar dua kali kecepatan ku. Entah bagaimana perintah terselesaikan, aku melompat melewati pintu yang muncul dari luar lorong, dan segera menutup dan mengunci mereka."

"Dikunci...Katamu, tingkat otoritas menteri tertinggi sama seperti milik mu, Jadi bukankah itu bisa dibuka dari sisi lain?"

"Seharusnya. Namun, untungnya, sementara mengunci dari dalam ruang perpustakaan dengan memutar kunci sembilan puluh derajat ke kanan, membukanya dari luar diperlukan ritual seni yang membosankan. Dipisahkan oleh satu set pintu,  aku membacakan ritual seni baru sambil mendengarkan suara Administrator, yang dipenuhi niat dingin untuk membunuh,membacakan perintah membuka. Kunci berbelok ke kiri di depan mataku di saat aku menyelesaikan ritualku..."


Mungkin teringat kembali kenangannya waktu itu, Kardinal dengan lembut meremas tubuhnya sendiri dengan kedua lengannya. menceritakan dua ratus tahun yang lalu, namun keringat dingin membasahi punggung ku dengan hanya membayangkan kejadiannya saja. Menyelesaikan sup jagung ku, yang sedikit tersisa, aku sambil menghirup udara lalu bertanya.

"Ritual yang kamu ucapkan tadi merupakan ritual untuk menghancurkan pintu...Apakah benar?"

"Yaa, Aku menghancurkan satu-satunya jalan yang menghubungkan katedral dengan Ruang Perpustakaan Besar ini, dengan mengubah pintu-pintu tersebut menjadi potongan-potongan kecil. Dengan begitu, tempat ini benar-benar terisolasi dari dunia luar dan aku berhasil lolos dari pengejaran Administrator...dan seperti itulah kejadiannya."

"...Lalu mengenai alasan menteri tertinggi tidak membuat pintu lagi...?"

"Seperti yang ku sebutkan sebelumnya.bukan, bahwa Administrator yang pertama kali menciptakan Ruang Perpustakaan Besar dengan pintu-pintu tersebut, setelah itu ia memisahkannya dari Katedral. Nilai koordinal ruangan ini dalam sistem terus berubah secara acak di daerah yang tidak terpakai. Kecuali dia dapat secara akurat memprediksinya, gangguan eksternal tidak mungkin ada lagi."

"Jadi begitu...Namun koordinat Katedral pusat adalah tetap, jadi dapat memungkinkan untuk menghubungkan bagian-bagian dari tempat ini ke luar, ya?"

"Tepat sekali. Bisa dikatakan, pintu yang dibuat akan segera terdeteksi oleh familiar Administrator setelah mereka dibuka sekali. Begitu juga pintu yang di kebun mawar untuk menjemput kalian berdua Eugeo dan Kamu sebelumnya."

"A-aku sungguh menyesal mengenai hal itu..."

Aku menunduk dengan dalam dan sage muda tertawa kecil sebelum mengalihkan pandangannya ke arah ruang perpustakaan yang berbentuk kubah di langit-langit. Kedua matanya menyempit dari luar kacamatanya dan dia bergumam seakan merenungkan sesuatu.

"...AKu telah berjuang melawan kesalahan ku yang seharusnya telah dikoreksi, Administrator, dan kalah telak. Kabur berlindung di tempat ini....mengabdikan diri tanpa melakukan apa-apa selain observasi dan merenung selama dua ratus tahun."

"...Dua ratus tahun.."


-Jadi aku bergumam, tidak ada caraku, yang mengalami tujuh belas setengah tahun di dunia nyata dan dua tahun yang dipercepat di Underworld  dengan total kurang lebih dua puluh tahun, bisa memahami bagaimana merasakan waktu yang panjang. Aku hanya dapat membayangkan hal tersebut sebagai aliran waktu yang sangat lama.

Gadis di depan mata ku telah hidup selama periode waktu yang hampir bisa dibilang setara dengan keabadian . Sendirian di dalam Ruangan Perpustakaan yang Besar tanpa seekor tikuspun, dan dikelilingi oleh tumpukan buku yang diam. Bahkan kata-kata menyendiri tidaklah tepat untuk menggambarkannya, hal itu dapat dikatakan sebagai mengisolasi dari dunia luar. Aku bahkan tidak bisa bertahan selama dua ratus tahun jika berada dalam kondisi yang sama. Aku pasti akan membuka pintu atas keinginan ku sendiri bahkan jika hal itu menyebabkan kehancuran buat ku.

Tidak, tunggu. Sebelum itu-

"Kardinal....Kamu mengatakan bahwa umur fluct light sekitar seratus lima puluh tahun, bukan? Mendekati batas itulah yang membuat Administrator mencoba dan menyalin fluct light nya sendiri....Bagaimana bisa kamu melewati dua ratus tahun waktu setelah memisahkan diri ?"

"Aku rasa hal yang wajar bagimu menanyakan tentang itu."

Sementara waktu Kardinal mengembalikan cangkir yang kosong ke atas meja, lalu mengangguk.

"bahkan jika fluct light ku merupakan salinan yang diurutkan secara selektif oleh Administrator, tidak ada ruang yang cukup untuk menampung ingatan ku lebih lama . Oleh karena itu, Mengatur ulang ingatan ku sendiri merupakan langkah pertama yang harus dilakukan untuk mengamankan keselamatan setelah melarikan diri ke Ruangan Perpustakaan yang Besar."

"Me-Mengatur ulang...?"

"Tentu saja. contohnya topik yang telah dijelaskan sebelumnya, mengedit file langsung tanpa melakukan backup. Kesadaranku mungkin akan dibinasakan menjadi cahaya dalam light cube jika satu kesalahan terjadi selama operasi."

"Er-Erm... Jadi, itu berarti Kamu masih memiliki wewenang untuk memanipulasi Light Cube Kluster yang berada di dunia nyata bahkan setelah terkurung dalam ruangan perpustakaan ini, kan? Kalau begitu, daripada mengakses diri sendiri, bukankah memungkinkan melakukannya kepada fluct light Administrator dan melakukan beberapa jenis serangan seperti menghancurkan jiwanya...?"

"Justru hal itu akan bekerja dengan sebaliknya.Tapi sayangnya-atau mungkin untungnya, jenis scred art yang mengubah keberadaan target umumnya memerlukan suatu hubungan langsung dengan target atau objek, atau paling tidak bisa melihat target secara langsung. Bahkan dengan konsep <<jangkauan>> yang dekat. itulah sebabnya Administrator harus repot-repot membawa putri pemilik toko furniture sepanjang jalan sampai ke lantai atas Katedral dan seperti bagaimana dia membawa kamu dan Eugeo ke gereja."


AKu tanpa sadar menggigil setelah mendengar hal itu. Jika kami tidak berhasil dalam pelarian sembrono kami, siapa yang tahu apa yang akan terjadi di tempat interogasi dan hal apa yang akan terjadi.

"-Dengan kata lain, setelah mengisolasi diri di ruang perpustakaan, aku tidak mampu menyerang fluct light Administrator tidak peduli berapa banyak kekuatan yang aku punya dan kemampuan menangkal serangan darinya di saat yang sama."

Terlepas apakah dia mengetahui kecemasan ku atau tidak, Kardinal menurunkan bulu alis matanya di balik kacamata dan melanjutkan kata-katanya.

"Mengatur ulang jiwaku sendiri... sungguh sebuah operasi yang menakutkan. Bagaimanapun juga, ingatan saat ini yang jelas teringat akan menghilang tanpa sisa dengan satu perintah. Namun, aku tidak punya pilihan lain selain melakukannya. Aku dapat dengan mudah membayangkan bahwa itu akan memakan waktu yang sangat lama bagi Administrator untuk melakukannya dengan keadaan saat itu, Kau tahu.-Pada akhirnya aku menghapus semua ingatan ku ketika aku menjadi Quinella, serta setelah menjadi Administrator, hampir sembilan puluh tujuh persen...."


"Wha...Bukankah itu hampir seluruhnya ?"

"Tentu saja, cerita panjang Quinella yang aku beritahukan kepada kamu bukanlah pengalaman ku secara pribadi melainkan hanya pengetahuan yang aku catat sebelum proses penghapusan. Aku bahkan tidak mengingat wajah orang tua yang membesarkanku. Baik kehangatan tempat tidur aku gunakan setiap tidur malam, maupun rasa roti bakar manis yang aku suka dulu...Aku telah menyebutkan, bukan, bahwa aku tidak memiliki sedikitpun emosi manusia. Aku hanyalah sebuah program yang hampir semua kenangan dam emosinya hilang, Mengambil tindakan murni dibawah perintah yang tertulis di dalam jiwaku, <<untuk menghentikan proses utama yang menjadi gila>>. Semacam itulah keberadaan ku".

Wajah kardinal menunduk kebawah ketika senyuman muncul di wajahnya, Namun itu tampaknya diselimuti dengan kesepian yang begitu mendalam sehingga tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata menurut pandangan ku. Kamu bukanlah program, Kamu masih memiliki emosi seperti aku dan manusia umumnya,
Aku ingin berkata seperti itu, namun kata-kata ku tidak mau keluar.

Mengangkat wajahnya, Kardinal melirik ku yang tenggelam dalam keheningan dan tersenyum lagi sebelum dia mulai menggerakan mulutnya sekali lagi.

"...Akibat menghapus ingatan ku, aku mendapatkan kapasitas bebas yang cukup dalam fluct light ku saat ini. Setelah mendapatkan banyak waktu, aku pulih dari pelarian yang menyedihkanku dan menyusun rencana untuk menghadapi perlawanan terhadap Administrator sebagai balasannya. -Aku betul betul mempertimbangkan menggunakan ketidaktahuannya dan mengadakan pertarungan satu lawan satu sekali lagi. Tidaklah mungkin membuka ruang perpustakaan ini dari luar, akan tetapi seperti yang disebutkan sebelumnya, Bagaimanapun juga hal sebaliknya dapat terjadi. Perintah untuk membuat pintu memiliki <<jangkauan>> juga, Namun hanya dari kebun Katedral pusat sampai lantai tengah yang berada di dalamnya. Dia pasti turun menuju lantai bawah menara, meskipun jarang, Jadi membuka pintu di saat-saat seperti itu mungkin dapat melakukan serangan kejutan. Dan aku sudah terbiasa mengendalikan tubuh ini dengan mudah juga."

"..Jadi begitu. Memang terdengar menguntungkan jika kamu dapat menjamin serangan pembuka, namun...tetap saja, itu cukup berjudi, kan? Tidak akan aneh jika Admninistrator juga memiliki sesuatu di belakangnya..."

Sebuah serangan mendadak jaranglah berhasil dengan pihak lain yang menyadari adanya kemungkinan tersebut. Beberapa kali aku mengatur dan melakukan penyergapan di masa SAO ku juga, tapi sebagian besar tidak berhasil karena target menjaga kewaspadaannya. Memikirkan serangan mendadak sepertinya akan terjadi disana. Kardinal mengangguk, sepertinya kesal ketika aku menunjukkan itu.

"Sebelum Quinella menjadi menteri tertinggi, ia memiliki bakat untuk mencari tahu kelemahan orang lain seperti bagaimana ia melihat kelemahan ku. Postur tubuhku, di tengah-tengah pertempuran setelah kami berpisah, dia menyadari keuntungannya bahwa aku dengan keadaan yang baru dan langsung  menggunakannya."

"Keuntungan...Tapi kamu dan Admninistrator pada dasarnya memiliki tingkatan kemampuan yang sama persis dalam menyerang dan bertahan, kan? Dan juga, termasuk kecerdasan mu."

"Aku ragu dengan bagaimana kamu menempatkannya."

Dia mendengus, kemudian melanjutkan.

"Hampir tidak ada perbedaan pertempuran yang potensial antara dia dan aku. Tentu saja, itu hanya berlaku ketika berada dalam pertarungan satu lawan satu."

"Satu-lawan-satu...-Aah, jadi begitu."

"Memang seperti itu. Aku hanyalah seorang petapa tanpa pengikut, sementara dibandingkan dengan dia, dia adalah penguasa sebuah organisasi besar, Gereja Aksiom... Administrator sangat sadar akan bahaya menyalin fluct light sendiri melahirkan halangan, yaitu aku, dan mendorong ke jurang kematiannya. Bisa dikatakan, keadaan jalur sinaptiknya gagal karena ingatannya yang overload tidak berubah. Dia harus melakukan sesuatu, namun tidak seperti ku, dia tidak berani mengambil resiko yang tinggi dengan langsung mengedit ingatannya. tidak, dia enggan menyelesaikan dengan kompromi, Dia mempertahankan kapasitas bebas minimum yang diperlukan dengan menghapus ingatan yang tidak diperlukan yang baru-baru ini, Operasi dengan resiko terendah, dan mengurangi jumlah informasi terbaru sebisanya."


Credit : baka-tsuki (English)
- Bersambung -

Artikel Yang Berkaitan

0 komentar:

Posting Komentar